Komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang mendengar untuk mengerti, bukan mendengar untuk membalas.
Agar pesan sampai dengan baik tanpa menimbulkan salah paham, terapkan prinsip ini:
Keterbukaan (Transparency): Sampaikan kejujuran meskipun pahit. Kejujuran di awal jauh lebih baik daripada kebohongan yang terbongkar di akhir.
Empati: Cobalah berdiri di posisi pasangan sebelum menghakimi. Jika pasangan lelah pulang kerja, berikan apresiasi sebelum memberikan keluhan.
Waktu yang Tepat (Timing): Jangan membahas masalah berat saat pasangan sedang lapar, sangat lelah, atau menjelang tidur. Cari momen santai seperti saat minum teh sore hari.
Bahasa Tubuh (Non-Verbal): Kontak mata, pegangan tangan, dan nada bicara yang lembut seringkali lebih bermakna daripada ribuan kata.
Apresiasi: Jangan pelit memuji. Kata "Terima kasih sudah masak hari ini" atau "Terima kasih sudah bekerja keras" adalah vitamin bagi keharmonisan.
Saat merasa kecewa, hindari kalimat "You-Message" yang cenderung menyalahkan.
❌ Salah (You-Message): "Kamu selalu saja telat pulang, tidak peduli sama rumah!" (Hasil: Pasangan akan defensif/melawan).
✅ Benar (I-Message): "Saya merasa khawatir dan kesepian kalau kamu pulang terlambat tanpa kabar. Saya berharap kamu bisa memberi tahu jika ada lembur." (Hasil: Pasangan merasa dibutuhkan dan lebih kooperatif).
Konflik dalam rumah tangga itu wajar, yang tidak wajar adalah cara menyelesaikannya yang salah.
Jangan Gunakan "Silent Treatment": Mendiamkan pasangan berhari-hari tidak menyelesaikan masalah, justru menumpuk bom waktu.
Fokus pada Masalah, Bukan Orangnya: Serang masalahnya, jangan serang pribadinya atau membawa-bawa kekurangan fisik dan keluarganya.
Aturan 24 Jam: Jika emosi sedang memuncak, ambillah waktu untuk tenang (cooling down). Namun, jangan biarkan masalah menggantung lebih dari 24 jam tanpa solusi.
Tiga Kata Ajaib: Biasakan menggunakan kata "Tolong", "Maaf", dan "Terima Kasih".
Ingatlah bahwa suami dan istri tumbuh di lingkungan dan asuhan yang berbeda.
Pahami Perbedaan Cara Berpikir: Pria cenderung menggunakan logika dan solusi, sementara wanita seringkali hanya ingin didengar dan divalidasi perasaannya.
Menerima Kekurangan: Fokuslah pada kelebihan pasangan yang membuatmu jatuh cinta dulu, bukan terus-menerus meratapi kekurangannya.
Dilarang keras melakukan kekerasan (KDRT), baik fisik maupun verbal (kata-kata kasar).
Jangan membawa masalah rumah tangga ke media sosial atau keluarga besar sebelum mencoba menyelesaikannya berdua.
Jangan pernah mengucapkan kata "Cerai" atau "Pisah" saat sedang emosi.
"Rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang kedua belah pihak sepakat untuk terus membicarakannya dan menyelesaikannya bersama."
Bimwin adalah Investasi Terbaik untuk Masa Depan Rumah Tangga Anda.
Bimbingan Perkawinan (Bimwin) adalah program unggulan dari Kementerian Agama yang wajib diikuti oleh Calon Pengantin (Catin) sebagai bekal ilmu dan mental sebelum menikah.
Kesehatan Reproduksi: Edukasi tentang perencanaan kehamilan, kesehatan, dan stunting.
Manajemen Keuangan Keluarga: Tips mengelola penghasilan dan menghindari konflik ekonomi.
Komunikasi Efektif: Strategi mengatasi masalah dan konflik secara dewasa.
Keluarga dan Sosial Media: Etika dan batasan bermedia sosial dalam kehidupan rumah tangga.