Memahami Nafkah Batin: Bukan Hanya Seksual, Tapi Juga Rasa Aman.
Nafkah batin sering kali disalahartikan hanya sebatas hubungan intim, padahal cakupannya jauh lebih luas dalam membangun ketahanan keluarga.
Berdasarkan tinjauan hukum dan psikologi, berikut adalah aspek-aspek utama nafkah batin:
1. Kebutuhan Emosional dan Kasih Sayang
Nafkah batin mencakup pemberian rasa cinta, perhatian, dan kasih sayang yang tulus. Hal ini melibatkan komunikasi yang baik, mendengarkan keluh kesah pasangan, serta memberikan apresiasi atas peran masing-masing dalam rumah tangga.
2. Rasa Aman dan Perlindungan
Seorang pasangan wajib memberikan rasa aman secara psikologis. Ini berarti menciptakan lingkungan rumah tangga yang bebas dari ancaman, ketakutan, atau kekerasan (baik verbal maupun fisik). Merasa terlindungi dan didukung dalam kondisi sulit adalah bentuk nafkah batin yang krusial.
3. Penghormatan dan Harga Diri
Menjaga kehormatan pasangan, tidak merendahkannya di depan orang lain, dan menghargai pendapatnya adalah bagian dari kewajiban batiniah. Sikap saling menghormati ini membangun kepercayaan diri dan kesehatan mental pasangan.
4. Pemenuhan Kebutuhan Biologis
Meskipun bukan satu-satunya, hubungan seksual yang sehat dan dilakukan dengan cara yang baik (ma’ruf) tetap merupakan bagian dari nafkah batin untuk menjaga keharmonisan dan menyalurkan kebutuhan alami manusia secara sah.
5. Dukungan Spiritual
Membimbing pasangan dalam hal keagamaan dan moral juga termasuk dalam kategori ini. Mengajak pada kebaikan dan saling mengingatkan dalam ibadah membantu ketenangan jiwa pasangan.
Kesimpulan:
Ketidakcukupan nafkah batin sering menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Jika Anda merasa mengalami ketimpangan dalam hal ini, Anda dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional atau mencari panduan hukum melalui laman Indonesia.go.id untuk memahami hak-hak perkawinan di Indonesia atau menghubungi layanan konseling di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).